Berdasarkan laporan yang dihimpun, tren pengembangan pertanian modern di Bali kini tengah digandrungi oleh masyarakat luas. Kendati demikian, sektor ini masih dihadapkan pada berbagai tantangan klasik yang menghambat ekspansi usahanya secara masif.
Menurut laporan media, Ketua Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Amerta Giri Lesung sekaligus Ketua DPC Pemuda Tani Indonesia Buleleng, I Kadek Agus Indrawan, mengungkapkan bahwa peminat pertanian modern sebenarnya cukup tinggi. Namun, faktor permodalan masih menjadi batu sandungan utama di lapangan.
"Memang itu sedang booming, tapi masih ada juga beberapa yang menghambatkan karena harus misalnya kita membuat greenhouse itu kan bisa pertanian modern dan berbeda-beda hidroponik," ujar I Kadek Agus Indrawan sebagaimana dikutip dari RRI.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeLebih lanjut, Agus menjelaskan bahwa pembangunan fasilitas seperti greenhouse serta instalasi hidroponik memerlukan anggaran biaya yang tidak sedikit. Nilai investasinya bahkan bisa menembus angka hingga ratusan juta rupiah per unit.
"Karena permodalan pembuatan greenhouse atau instalasi hidroponik itu lumayan, bisa ratusan juta. Untuk mungkin ada juga beberapa itu dari kepemilikan lahan yang terbatas," tambahnya.
Meskipun teknik hidroponik skala rumah tangga masih bisa diaplikasikan dengan memanfaatkan sisa lahan yang minim, pengembangan dalam skala komersial atau bisnis tetap menuntut ketersediaan modal serta luas lahan yang memadai.
Menanggapi persoalan tersebut, pihak terkait berharap agar akses permodalan bagi para petani di daerah bisa dipermudah ke depannya. Dukungan finansial yang memadai dinilai krusial agar pertanian modern di Bali dapat terus tumbuh sekaligus menarik minat generasi muda untuk terjun ke sektor agraris.