Karier Alejandro Garnacho selalu diwarnai sorotan tajam sejak ia pertama kali mencuri perhatian pada Februari 2022. Aktivitas media sosial yang kontroversial, tuduhan tindakan tidak disiplin, hingga aksi teatrikal di lapangan hijau kerap menjadi bahan kritik yang dialamatkan kepada pemain sayap tersebut.
Related Stories
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak berita terbaru tentang Désiré Doué dan PSG dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Now →Saat melakoni debutnya bersama Manchester United melawan Chelsea dalam usia 17 tahun, ekspektasi publik sangat tinggi. Pendukung United bahkan menyanyikan yel-yel "Viva Ronaldo" untuk menyambut pemain muda asal Argentina tersebut yang digadang-gadang sebagai talenta besar berikutnya.
Kini Chelsea dilaporkan terbuka untuk melepas Garnacho sebelum bursa transfer September ditutup. Berdasarkan laporan internal, klub asal London Barat tersebut hanya bersedia mempertimbangkan kesepakatan permanen untuk pemain berusia 22 tahun itu. AS Roma menjadi salah satu klub yang berminat, namun klub Italia tersebut lebih memilih opsi peminjaman.
Manajemen Chelsea bersikeras menginginkan transfer permanen atau pinjaman dengan kewajiban membeli. Chelsea mematok harga sekitar 42,5 juta poundsterling untuk Garnacho. Nilai tersebut akan memberikan keuntungan tipis setelah mereka menebus sang pemain seharga 40 juta poundsterling dari Manchester United musim panas lalu.
Keputusan Chelsea mendatangkan Garnacho pada Agustus lalu sempat membingungkan para pendukung menyusul akhir pahit masa baktinya di Old Trafford. Garnacho sempat frustrasi karena tidak menjadi starter dalam laga final Liga Europa saat Manchester United kalah dari Tottenham, dan hubungannya dengan manajer Ruben Amorim memburuk.
Menurut pernyataan Garnacho dalam wawancara di acara "Premier League: The Big Interview" di TNT Sports pada April lalu, ia mengaku tidak ada yang salah secara fatal. "Dalam enam bulan terakhir di Manchester United, saya mulai jarang bermain sebagai starter. Saya mulai sering berada di bangku cadangan. Di kepala saya saat itu, saya merasa harus bermain di setiap pertandingan. Mungkin saya juga melakukan beberapa kesalahan," ujarnya.
Garnacho memiliki kesempatan besar untuk mengunci posisi sayap kiri di Chelsea setelah rekrutan baru lainnya, Jamie Gittens, absen hampir sepanjang paruh kedua musim lalu. Namun, ia gagal memanfaatkan peluang tersebut, yang pada akhirnya merangkum perjalanan kariernya yang mengecewakan di Chelsea.
Meskipun menjalani musim debut yang kurang memuaskan, tidak ada keluhan mengenai sikap Garnacho di luar lapangan. Berdasarkan informasi dari internal klub di Cobham, profesionalisme sang pemain dinilai sangat teladan. Hal senada juga sempat diungkapkan oleh mantan manajer Liam Rosenior dan Enzo Maresca.
Saat ini Garnacho masih terikat kontrak enam tahun di Stamford Bridge dan menginginkan menit bermain yang lebih reguler. Namun, Chelsea tidak bisa memberikan jaminan tersebut, terlebih manajer baru Xabi Alonso memiliki visi bermain yang berbeda untuk sektor sayap kiri.
Pemain Argentina itu dilaporkan belum kembali ke sesi latihan pramusim di Cobham karena tengah bekerja sama dengan perwakilannya untuk mencari jalan keluar. Sumber dari klub meyakini bahwa solusi mengenai masa depan Garnacho akan segera tercapai dalam waktu dekat.