Masa kecil Angel Di Maria penuh dengan kerja keras. Sebagai anak dari seorang pekerja batu bara, ia sudah melihat kerasnya hidup sejak usia sembilan tahun. Dalam sebuah tulisan emosional di The Players" Tribune, Di Maria mengisahkan bagaimana ia dan saudara perempuannya harus mengangkut karung-karung batu bara dari truk ke halaman belakang rumah demi membantu sang ayah.
Related Stories
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak berita terbaru tentang Désiré Doué dan PSG dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Now →Di Maria kecil juga dikenal tidak bisa diam. Ia selalu berlari ke sana kemari dan membuat ibunya kewalahan. Karena kewalahan menghadapi anak yang hiperaktif ini, orang tuanya memutuskan untuk mengirim Di Maria ke klub sepak bola amatir. Awalnya tidak mudah karena ia sempat menghadapi penolakan. Namun, bocah kurus yang didukung penuh oleh ibunya itu menolak untuk menyerah.
Sang ibu setia mengantarnya menggunakan sepeda setiap hari untuk berlatih, baik di tengah teriknya musim panas maupun di bawah gigitan udara dingin musim dingin. Kerja keras dan ketekunan keluarga Di Maria akhirnya membuahkan hasil. Ia tumbuh menjadi salah satu talenta muda paling cemerlang di negaranya.
Kemampuan menusuk ke ruang kosong dari sisi sayap menjadi kekuatan utamanya. Pergerakan lincah dan kecepatan tinggi Di Maria segera menarik perhatian raksasa Portugal, Benfica. Langkah ini menjadi awal dari karier gemilangnya di Eropa.
"Orang-orang mengatakan bahwa ayah saya adalah pemain bola yang lebih hebat dari saya, tetapi lututnya hancur saat masih muda, dan impiannya mati. Mereka juga mengatakan kakek saya bahkan lebih hebat lagi, tetapi kedua kakinya harus diamputasi akibat kecelakaan kereta, dan impiannya pun mati," tulis Di Maria.
"Impian saya hampir mati berkali-kali. Namun, ayah saya terus bekerja di bawah atap seng, ibu saya terus mengayuh sepeda, dan saya terus berlari mencari ruang kosong," lanjutnya dalam tulisan tersebut.
Kemampuan mencari ruang kosong itu yang kemudian membangun legenda seorang Di Maria. Ia menjadi pemain juara di Benfica sebelum pindah ke Real Madrid untuk berduet dengan Cristiano Ronaldo demi meraih trofi La Liga dan Liga Champions. Bersama tim nasional Argentina, pergerakannya di sisi sayap selalu mematikan lawan.
Berdasarkan catatan sejarah, gol tunggal Di Maria di laga final berhasil membawa Argentina meraih medali emas Olimpiade 2008. Setelah itu, ia sempat mengalami serangkaian kegagalan menyakitkan bersama tim senior di ajang Piala Dunia dan Copa America. Namun, situasi berubah pada tahun 2021.
Ketika Argentina akhirnya memutus kutukan dengan menjuarai Copa America 2021, yang merupakan trofi mayor pertama mereka sejak 1993, Di Maria muncul sebagai pahlawan. Ia mencetak gol tunggal kemenangan ke gawang Brasil di Stadion Maracana, Rio de Janeiro. Satu tahun berselang, kecepatan eksposif dan penyelesaian akhir Di Maria menghancurkan Prancis di final Piala Dunia Qatar.
Meskipun Prancis sempat bangkit, Argentina akhirnya keluar sebagai juara melalui adu penalti. Air mata Di Maria tumpah merayakan kemenangan tersebut. Penyerang sayap yang memukau ini kemudian memutuskan pensiun dari sepak bola internasional setelah membawa Argentina kembali menjuarai Copa America pada tahun 2024.
Kepergian Di Maria menjadi salah satu alasan utama di balik performa tidak konsisten Argentina belakangan ini. Hingga saat ini, Argentina belum mampu menemukan pengganti yang sepadan. Menurut Tim Vickery, seorang pakar sepak bola Amerika Selatan, tidak ada pemain yang bisa menggantikan peran Di Maria di sepak bola modern saat ini.
Tim Vickery menilai bahwa Di Maria adalah seorang megabintang tanpa ego besar. "Di Real Madrid, dia yang memikul beban untuk Cristiano Ronaldo, dan dia juga yang memikul beban untuk Messi di Argentina," ujar jurnalis sepak bola asal Inggris yang menetap di Brasil tersebut melalui kanal YouTube pribadinya.
Di Maria memang tidak mencari panggung utama, tetapi ia memiliki segudang trik dan semangat tanpa batas untuk terus menyisir sayap dan melepaskan umpan silang akurat. Kini, saat Di Maria menghabiskan sisa kariernya di klub masa kecilnya di Rosario, seorang anak lain dari kota yang sama, Lionel Messi, harus turun tangan untuk memainkan peran tersebut.
Setelah pelatih kepala Lionel Scaloni mencoba beberapa pemain dan gagal menemukan pemain sayap berkualitas, ia mengubah sistem permainan menjadi lebih fokus pada penguasaan bola di area sentral. Namun, kurangnya kelebaran lapangan tetap menjadi masalah besar bagi Argentina.
Taktik bertahan lawan sempat menyulitkan Argentina. Cape Verde berhasil memanfaatkan celah ini di babak 16 besar, sebelum Mesir hampir saja menciptakan salah satu kejutan terbesar dalam sejarah turnamen. Saat Argentina tertinggal 2-0 dari wakil Afrika tersebut, Lionel Messi memutuskan bergeser ke sisi kanan lapangan.
Langkah ini diambil karena Mesir menutup rapat semua ruang di lini tengah. Lionel Messi kemudian melepaskan umpan-umpan silang dari sisi kanan yang mengawali gol pertama Argentina, sebelum ia sendiri mencetak gol kedua untuk menyelamatkan tim dari kekalahan. Performa ajaib ini kembali ia ulangi saat menghadapi Inggris di babak semifinal.
Setelah Argentina kebobolan di awal babak kedua oleh Inggris, Lionel Messi bergerak ke sisi kanan lapangan dan menjadi jauh lebih berbahaya. Di posisi tersebut, ia menggantikan peran Guillermo Simeone, anak dari mantan gelandang Argentina Diego Simeone, yang bermain solid namun kurang memberikan daya dobrak di lini serang.
Melihat pertandingan yang mulai lepas dari kendali, Lionel Messi mengambil alih permainan dari sisi kanan. Ia mengontrol penguasaan bola sembari menunggu momen yang tepat untuk menusuk atau melepaskan umpan. Saat laga tersisa lima menit dan Inggris bertahan total, pergerakan Lionel Messi dari situasi sepak pojok pendek berhasil memberi umpan kepada Enzo Fernandez yang kemudian mencetak gol penyeimbang.
Skor imbang 1-1 membuat tensi pertandingan meningkat. Di bawah komando Lionel Messi yang kini berusia 39 tahun, Argentina terus menekan dari sektor kanan. Puncaknya terjadi pada menit ke-92 setelah tembakan Alexis Mac Allister membentur tiang gawang.
Lionel Messi menyambar bola liar di sisi kanan luar kotak penalti. Dengan kelincahan kakinya, ia melakukan tusukan ala Di Maria dan melepaskan umpan silang akurat menggunakan kaki kanannya yang lebih lemah. Umpan tersebut melewati barisan bek jangkung Inggris dan disambut oleh sundulan Lautaro Martinez yang mencetak gol kemenangan.
Keberhasilan ini menjaga impian Argentina untuk mempertahankan gelar juara tetap hidup. Pada hari Minggu nanti melawan Spanyol, Lionel Messi bersiap menjadi pemain kedua dalam sejarah setelah legendaris Brasil, Cafu, yang tampil dalam tiga laga final Piala Dunia. Hal ini tidak akan terjadi jika Lionel Messi tidak bertransformasi menjadi sosok Di Maria baru bagi timnya.