Pertandingan semifinal Piala Dunia 2026 yang mempertemukan Inggris dan Argentina berakhir dengan drama tingkat tinggi di Mercedes-Benz Stadium, Atlanta. Laga klasik ini diselimuti ketegangan besar, baik dari sisi olahraga maupun tensi politik sejarah Perang Malvinas tahun 1982. Di akhir laga, skuad Albiceleste merayakan keberhasilan mereka lolos ke partai puncak dengan membentangkan spanduk penuh polemik di hadapan publik.
Related Stories
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak berita terbaru tentang Désiré Doué dan PSG dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Now →Inggris sebenarnya mampu unggul lebih dulu hingga menit ke-85 setelah Anthony Gordon mencetak gol pada babak kedua. Namun, petaka datang bagi Three Lions ketika Argentina bangkit dan membalikkan kedudukan menjadi 2-1 di menit-menit akhir. Kekalahan tragis ini membuat pers di Inggris terpukul dan langsung mengarahkan kritik tajam kepada sang manajer, Thomas Tuchel, yang dinilai gagal dalam menerapkan strategi bertahan.
Pihak internal tim Inggris tidak dapat menyembunyikan kekecewaan berat mereka setelah peluit panjang berbunyi. "Saya benar-benar kecewa. Kecewa untuk para pemain, seluruh staf, dan pendukung. Kami bermain bagus di sebagian besar pertandingan. Setelah unggul 1-0, kami mencoba bertahan. Pada level seperti ini, hal itu tidak cukup. Setelah gol terjadi, entah karena mereka menambah pemain menyerang atau karena kami gagal mengawal mereka secara individu, gelombang serangan terus datang dan kami hanya bisa mencoba bertahan. Pada akhirnya, itu semua tetap tidak cukup," ungkap salah satu perwakilan tim Inggris.
Sebaliknya, kubu Argentina merayakan kemenangan ini dengan emosi yang meluap-luap. "Saya tidak punya kata-kata, hanya emosi yang ada saat ini. Ini adalah kegembiraan yang luar biasa bagi rakyat, negara, dan kelompok ini. Kami akan mencoba menang di final dan melakukan segalanya, meskipun itu akan sangat sulit. Kami sangat bersatu, tanpa keangkuhan. Ini murni dari hati. Kami hanya harus berterima kasih kepada para pemain ini. Jersey ini sangat layak diperjuangkan. Kami harus memberikan segalanya hingga akhir," ujar perwakilan dari Argentina.
Jalannya pertandingan babak pertama berlangsung sangat keras hingga sempat memecahkan rekor Piala Dunia sejak 1966 sebagai laga pertama tanpa tembakan dalam 30 minute awal. Pertarungan fisik yang intensitasnya menyerupai duel tinju ini baru benar-benar terbuka setelah Anthony Gordon memanfaatkan umpan silang Morgan Rogers untuk menjebol gawang Dibu Martinez pada babak kedua. Gol tersebut sempat membuat kubu Inggris bersorak sebelum gelombang serangan balasan diluncurkan oleh Lionel Messi dan kawan-kawan.
Berdasarkan jalannya laga, keputusan Thomas Tuchel untuk memperkuat lini pertahanan dengan memasukkan beberapa bek justru membuat Inggris semakin tertekan. Penjaga gawang Jordan Pickford sempat melakukan beberapa penyelamatan gemilang, termasuk menepis sundulan Nico Gonzalez dan tembakan jarak jauh Enzo Fernandez. Namun, tembok pertahanan Inggris akhirnya runtuh pada menit ke-85 lewat sepakan melengkung Enzo Fernandez yang mengubah skor menjadi 1-1.
Puncak drama terjadi pada menit ke-90 ketika Lionel Messi mengirimkan umpan silang akurat ke tiang jauh dari sisi kanan. Lautaro Martinez, yang masuk sebagai pemain pengganti menggantikan Nicolas Tagliafico, melompat tinggi dan melepaskan sundulan tajam yang gagal dihalau oleh Jordan Pickford. Gol ini memastikan kemenangan 2-1 untuk Argentina sekaligus membuat kubu Inggris terkejut di sisa waktu tambahan sembilan menit.
Dengan hasil ini, Argentina melangkah ke babak final Piala Dunia 2026 untuk menantang Spanyol pada hari Minggu. Laga tersebut menjadi kesempatan emas bagi Lionel Messi untuk mempersembahkan bintang baru di jersey negaranya. Sementara itu, kekecewaan besar harus diterima oleh Inggris yang kini hanya akan memperebutkan tempat ketiga melawan Prancis pada hari Sabtu.