Pertandingan semifinal Piala Dunia pada hari Rabu menjadi babak baru dari salah satu persaingan paling sengit dalam sejarah sepak bola. Rivalitas antara Inggris dan Argentina ini tidak hanya dibentuk oleh drama di atas lapangan, tetapi juga oleh berbagai peristiwa bersejarah di luar lapangan hijau.
Related Stories
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak berita terbaru tentang Désiré Doué dan PSG dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Now →Menjelang laga krusial ini, pelatih kepala Inggris, Thomas Tuchel, mencoba membebaskan pikiran para pemainnya dari tekanan sejarah yang tidak perlu. "Kami akan mencoba melakukan apa yang mungkin dianggap tidak mungkin," ujar Thomas Tuchel dalam konferensi pers sebelum pertandingan demi menjaga fokus anak asuhnya.
Meskipun Thomas Tuchel dan pelatih Argentina, Lionel Scaloni, berusaha meredam tensi, sulit untuk mengabaikan sejarah panjang kedua tim. Perseteruan mereka mencakup momen pengenalan kartu merah dalam sepak bola, gol paling kontroversial sepanjang masa, hingga ingatan kolektif tentang Perang Falklands.
Bagi kubu Argentina, lagu-lagu yang merujuk pada Kepulauan Falklands atau Islas Malvinas, Diego Maradona, dan Lionel Messi terus bergema sepanjang turnamen ini. Berdasarkan pengamatan di lapangan, para suporter dan pemain kerap menyanyikan yel-yel emosional demi melihat Argentina kembali menjadi juara dunia.
Lionel Scaloni pun tidak bisa menghindar dari kenangan masa lalu, terutama aksi magis Diego Maradona pada Piala Dunia 1986. "Saya pikir semua orang mengingat pertandingan itu dan mereka mengingat permainan Diego Maradona, khususnya gol kedua itu. Gol tersebut akan selamanya ada di hati kami. Itu adalah gol yang sangat indah," tutur Lionel Scaloni.
Di sisi lain, Thomas Tuchel berharap anak asuhnya bisa mengabaikan beban sejarah tersebut agar dapat tampil lepas. Menurutnya, fokus utama staf pelatih adalah menyederhanakan instruksi taktis di tengah tekanan panggung semifinal yang sangat besar ini.
"Saya akan mengatakan itu tidak relevan, tetapi saya tidak yakin. Saya pikir para pemain dari kedua negara sangat sadar akan arti pertandingan ini bagi mereka. Kami tidak berbicara tentang peristiwa sejarah atau momen ikonik itu di dalam tim. Kami hanya fokus pada apa yang bisa kami pengaruhi," kata Thomas Tuchel menjelaskan strateginya.
Laga ini juga krusial bagi Inggris yang kini berjarak satu kemenangan menuju final Piala Dunia pertama mereka dalam 60 tahun. Namun, mereka harus melewati adangan Lionel Messi yang masih tampil tajam dan menjadi salah satu pencetak gol terbanyak di turnamen ini dengan koleksi delapan gol.
Inggris juga dituntut memperbaiki performa mereka setelah tampil kurang meyakinkan saat mengalahkan Norwegia di perempat final. Thomas Tuchel mengakui bahwa timnya melakukan terlalu banyak kesalahan teknis yang menghambat ritme serangan pada laga sebelumnya.
"Kami agak terburu-buru dalam mengambil keputusan dan kurang sabar. Kami harus meningkatkan ritme permainan, pola serangan, dan eksekusi teknis ke tingkat yang lebih tinggi. Pertandingan besok melawan lawan tangguh akan mengeluarkan kemampuan terbaik dari para pemain kami," pungkas Thomas Tuchel dengan optimis.