Mantan penyerang tim nasional Inggris, Gary Lineker, melontarkan kritik tajam terhadap taktik yang diterapkan Thomas Tuchel. Menurut Gary Lineker, keputusan sang manajer saat Inggris menelan kekalahan dari Argentina di babak semifinal Piala Dunia sangat tidak masuk akal. Langkah defensif yang diambil justru menjadi bumerang bagi tim.
Related Stories
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak berita terbaru tentang Désiré Doué dan PSG dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Now →Dalam laga tersebut, Thomas Tuchel memasukkan beberapa pemain bertahan seperti Ezri Konsa, Nico O'Reilly, dan Dan Burn. Namun, strategi tersebut gagal meredam agresivitas Argentina. Lionel Messi tetap mampu bergerak bebas di sisi sayap kanan dan merancang dua gol kemenangan untuk timnya.
Berbicara dalam program "The Rest is Football" di Netflix, Gary Lineker mengungkapkan keheranannya terhadap pendekatan bertahan tersebut. "Saya merasa sangat tidak masuk akal bahwa, jika taktik Anda adalah membuat semua orang bertahan jauh di belakang, Anda melakukannya di hadapan pemain terbaik yang pernah ada di dunia sepak bola," ujar Gary Lineker dengan nada kecewa.
Berdasarkan pandangan Gary Lineker, performa luar biasa Lionel Messi semakin terbukti di setiap pertandingan melalui catatan gol dan umpan terbanyak di Piala Dunia. "Dia bergerak ke kanan, dan Anda bermain dengan lima bek, tetapi Anda tetap tidak menjaganya dengan ketat. Cukup tempatkan seseorang untuk mengawalnya. Dia memiliki begitu banyak ruang dan terus-menerus mengirimkan umpan lambung ke dalam kotak penalti," tambah Gary Lineker.
Kritik lain juga datang dari mantan gelandang Joe Cole, yang menyoroti mentalitas negatif tim ketika sudah berada di ambang kemenangan. Inggris kini tercatat telah menelan kekalahan dalam tiga laga semifinal Piala Dunia secara berturut-turut. Hasil ini dinilai sangat mengecewakan karena pola kegagalan yang sama terus terulang.
"Ini sangat melemahkan semangat, bukan? Karena kita pernah berada di situasi ini sebelumnya. Menurut saya ini masalah yang sama. Jika Anda ingin membawa Inggris melangkah jauh dan menyelesaikannya, Anda harus melewati rintangan di mana ketakutan akan kegagalan melumpuhkan tim Inggris," kata Joe Cole saat menganalisis pertandingan tersebut.
Joe Cole juga menambahkan bahwa statistik penguasaan bola Inggris yang hanya mencapai 12 persen setelah mencetak gol menunjukkan adanya masalah besar dalam pola pikir tim. Menurut Joe Cole, taktik dan pergantian pemain memang bisa diperdebatkan, tetapi pada akhirnya arah permainan ditentukan oleh manajer. Kepanikan kerap muncul saat tim sudah sangat dekat dengan target.
Sebelum turnamen dimulai, Thomas Tuchel telah menandatangani kontrak baru untuk tetap menukahi Inggris hingga berakhirnya Euro 2028. Rencana tersebut dipastikan tidak berubah karena sang pelatih tetap mendapatkan dukungan penuh dari pihak Football Association.
Menurut pernyataan Thomas Tuchel setelah kekalahan dari Argentina, ia menegaskan komitmennya untuk menghormati kontrak tersebut. "Saya memiliki kontrak hingga Euro di kandang sendiri dan saya menantikan hal itu, meskipun saat ini sulit untuk melihat terlalu jauh ke depan," kata sang pelatih kepala.
Skuad Inggris langsung terbang kembali ke markas mereka di Kansas City setelah kekalahan menyakitkan di Georgia tersebut. Di tempat terpisah, Kepala Eksekutif Football Association, Mark Bullingham, memberikan pembelaan dan pujian atas kerja keras Thomas Tuchel serta seluruh anggota tim sepanjang turnamen berlansung.