Angel Di Maria adalah putra seorang pekerja batu bara. Sejak usia sembilan tahun, ia sudah merasakan kerasnya hidup. Ia menulis di The Players" Tribune tentang bagaimana ia dan saudara perempuannya membawa karung batu bara dari truk ke halaman belakang rumah untuk membantu ayah mereka.
Related Stories
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak berita terbaru tentang Désiré Doué dan PSG dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Now →Sebagai anak-anak, Di Maria sangat aktif dan sulit diatur hingga membuat ibunya kewalahan. Orang tuanya kemudian mengirimnya ke klub sepak bola amatir. Sang ibu mengantarnya berlatih dengan sepeda setiap hari, melewati musim panas yang terik hingga musim dingin yang membeku.
Kerja keras keluarga Di Maria akhirnya membuahkan hasil. Ia tumbuh menjadi salah satu talenta muda paling cemerlang di negaranya. Kecepatannya di sisi sayap menarik perhatian klub raksasa Portugal, Benfica.
"Mereka bilang ayah saya adalah pemain sepak bola yang lebih hebat dari saya, tetapi lututnya hancur saat muda, dan mimpinya mati. Mereka bilang kakek saya bahkan lebih hebat lagi, tetapi ia kehilangan kedua kakinya dalam kecelakaan kereta api, dan mimpinya mati," tulis Di Maria.
"Mimpi saya hampir mati berkali-kali. Tetapi ayah saya terus bekerja di bawah atap seng... ibu saya terus mengayuh sepeda... dan saya terus berlari mencari ruang."
Kemampuan luar biasa dalam memanfaatkan ruang kosong ini membentuk legenda Di Maria. Ia menjadi juara bersama Benfica sebelum pindah ke Real Madrid, di mana ia berkolaborasi dengan Cristiano Ronaldo untuk meraih kejayaan di La Liga dan Liga Champions.
Di tingkat internasional, ia sangat mematikan di lini sayap Argentina. Gol tunggalnya di final membawa negara tersebut meraih medali emas Olimpiade 2008. Setelah beberapa kali mengalami patah hati di Piala Dunia dan Copa America, Di Maria mencetak gol penentu kemenangan di final Copa America 2021 melawan Brasil di Maracana.
Satu tahun kemudian, kecepatan dan penyelesaian akhir Di Maria menghancurkan Prancis di final Piala Dunia Qatar. Sang pemain sayap legendaris ini akhirnya memutuskan pensiun dari sepak bola internasional setelah membawa Argentina menjuarai Copa America 2024.
Kepergiannya menjadi salah satu alasan utama di balik kesulitan Argentina baru-baru ini. Menurut pakar sepak bola Amerika Selatan, Tim Vickery, tidak ada pemain di dunia yang bisa menggantikan sosok Di Maria karena ia adalah megabintang tanpa ego.
"Di Real Madrid, ia memikul beban untuk Cristiano Ronaldo, dan ia melakukan hal yang sama untuk Messi di Argentina," ujar Vickery melalui kanal YouTube miliknya.
Kini, saat Di Maria menghabiskan masa senjanya di Rosario, Lionel Messi mengambil alih peran tersebut di tim nasional. Pelatih Lionel Scaloni sempat mencoba beberapa pemain di posisi sayap namun gagal, hingga akhirnya ia mengubah taktik ke permainan penguasaan bola di area tengah.
Namun, minimnya kelebaran lapangan tetap menjadi celah bagi Argentina. Masalah ini sempat dimanfaatkan oleh Tanjung Verde dan Mesir. Saat tertinggal 0-2 dari Mesir, Messi bergeser ke sisi kanan, melepaskan umpan silang untuk gol pertama, lalu mencetak gol kedua untuk menyelamatkan Argentina.
Messi kembali melakukan keajaiban di semifinal melawan Inggris. Di bawah tatapan David Beckham dari tribun VIP, Guillermo Simeone tampil solid namun kurang memiliki kualitas serangan yang eksplosif di sisi kanan untuk membongkar pertahanan Inggris.
Melihat ancaman laga akan lepas dari genggaman, Messi mulai bergerak ke kanan untuk menguasai bola. Pada menit ke-85, ia memulai skema serangan dari sisi kanan setelah sepak pojok pendek, memberikan umpan kepada Enzo Fernandez yang mencetak gol penyeimbang lewat tendangan jarak jauh yang menakjubkan.
Pada menit ke-92, setelah tembakan Alexis Mac Allister membentur tiang gawang, Messi merebut bola liar di sisi kanan kotak penalti. Dengan kelincahannya, ia melakukan tusukan khas Di Maria dan mengirimkan umpan silang akurat menggunakan kaki kanan ke arah Lautaro Martinez, yang mencetak gol kemenangan lewat sundulan.
Pada hari Minggu melawan Spanyol, Messi bersiap menjadi pemain kedua dalam sejarah setelah legenda Brasil Cafu yang bermain dalam tiga final Piala Dunia. Langkah bersejarah ini tidak akan terwujud jika Messi tidak menjelma menjadi sosok Di Maria baru bagi Argentina.