Lucas Digne akhirnya memecah keheningan dua hari setelah laga semifinal antara Prancis dan Spanyol. Bek kiri tim nasional Prancis tersebut melakukan pelanggaran keras di dalam kotak penalti terhadap Lamine Yamal. Aksi ini membuka keunggulan bagi Spanyol. Pelanggaran tersebut terlihat sangat jelas sekaligus ceroboh. Lamine Yamal bermain cerdik dengan merebut bola sebelum kaki Digne mengenainya tanpa sengaja.
Related Stories
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak berita terbaru tentang Désiré Doué dan PSG dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Now →Kini, hampir 48 jam berlalu dengan kepala yang lebih dingin, Lucas Digne menganalisis kekalahan Prancis di babak semifinal. Meski demikian, Prancis masih memiliki satu pertandingan tersisa. Mereka akan memperebutkan tempat ketiga melawan Inggris pada hari Sabtu ini.
Menurut pesan yang diunggah di akun Instagram pribadinya, Digne mengungkapkan rasa kehilangan yang mendalam. "Semuanya telah berakhir, akhir dari sebuah impian. Impian seorang anak kecil, dan tentunya impian ribuan orang yang mendukung kami," tulis bek Aston Villa tersebut.
Digne juga menambahkan bahwa kenyataan ini sangat memukul mentalnya dan tim. "Kami selalu membayangkan banyak hal, sering kali hal-hal yang paling indah. Namun, akhir dari sebuah impian terkadang bisa sangat sulit, dan kenyataan saat terbangun terasa lebih brutal. Hal tersulit hari ini adalah menemukan kata-kata untuk mengungkapkan kekecewaan yang sangat besar ini," lanjut Digne.
Pemain bertahan ini tidak menyembunyikan penyesalan pribadinya atas insiden penalti tersebut. "Pertama-tama saya kecewa pada diri saya sendiri. Saya juga kecewa untuk tim ini, atas semua usaha yang telah kami lakukan dan untuk kelompok pemain yang luar biasa ini. Saya juga memikirkan semua orang yang melakukan perjalanan, serta mereka yang mendukung kami dari Prancis dan seluruh dunia. Dukungan Anda telah membawa kami sepanjang petualangan ini," ungkapnya.
Meski terpukul, Digne tetap bersyukur atas kesempatan membela negaranya di turnamen akbar ini. "Di balik kekecewaan yang luar biasa ini, saya tetap bangga telah mewakili negara kami, dengan segala kekayaan, keberagaman, dan seluruh masyarakat yang ada di dalamnya. Terima kasih atas segalanya, atas dukungan Anda, dan untuk semua emosi ini. Anda semua luar biasa sepanjang kompetisi. Ini belum berakhir, kami masih harus mengejar podium," tutup Digne merujuk pada laga kontra Inggris.
Pertandingan perebutan tempat ketiga melawan Inggris juga akan menjadi panggung terakhir bagi pelatih Les Bleus. Didier Deschamps, pelatih paling sukses dalam sejarah sepak bola Prancis, akan menutup siklusnya bersama tim nasional dalam laga yang sebenarnya tidak ingin dimainkan oleh siapa pun di Piala Dunia ini.
Berdasarkan catatan sejarah, Deschamps adalah satu dari tiga orang yang mampu memenangkan Piala Dunia sebagai pemain dan pelatih, bersanding dengan Mario Lobo Zagallo dari Brasil dan Franz Beckenbauer dari Jerman. Dia memegang rekor sebagai pelatih dengan jumlah pertandingan terbanyak dalam sejarah Piala Dunia, yakni 26 laga sebelum pertandingan di Miami hari Sabtu nanti.
Deschamps juga mencatatkan rekor kemenangan terbanyak dengan 20 kemenangan dan hanya menelan 3 kekalahan. Bersama Helmut Schön dari Jerman, mereka menjadi satu-satunya pelatih yang berhasil membawa negaranya minimal mencapai babak perempat final dalam empat edisi Piala Dunia berturut-turut.
Sejak mengambil alih tim pada tahun 2012 yang saat itu kehilangan arah di bawah Laurent Blanc, Deschamps berhasil memberikan stabilitas. Dia meninggalkan Prancis di posisi empat besar dunia, dengan raihan satu gelar juara dunia, satu posisi runner-up, satu trofi Liga Negara UEFA, dan posisi kedua di Piala Eropa. Sebagai pemain maupun pelatih, Deschamps telah terlibat dalam lebih dari separuh kemenangan Prancis di Piala Dunia.