Pertandingan perebutan tempat ketiga Piala Dunia 2026 di Miami berakhir dengan drama sepuluh gol yang tragis bagi Prancis. Menghadapi Inggris, tim asuhan Didier Deschamps harus mengakui keunggulan lawan dengan skor akhir 4-6. Hasil ini sekaligus menutup lembaran panjang 14 tahun kepemimpinan Deschamps di kursi kepelatihan Les Bleus dengan catatan yang kurang memuaskan.
Related Stories
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak berita terbaru tentang Désiré Doué dan PSG dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Now →Berdasarkan jalannya laga pada babak pertama, performa lini belakang Prancis tampil sangat buruk. Declan Rice membuka keunggulan Inggris melalui sepakan dari luar kotak penalti pada menit-menit awal. Keadaan menjadi semakin sulit bagi Les Bleus setelah Ezri Konsa dan dua gol dari Bukayo Saka membawa tim berjuluk Three Lions memimpin telak 4-0 hingga turun minum.
Kondisi tersebut memicu ketegangan di internal tim. Gelandang Adrien Rabiot bahkan secara terbuka mengecam sikap beberapa rekan setimnya. Menurut Rabiot, performa pada paruh pertama pertandingan benar-benar memalukan dan tidak menunjukkan rasa hormat terhadap seragam tim nasional.
Memasuki babak kedua, Prancis melakukan empat pergantian pemain sekaligus dan mencoba bangkit. Kylian Mbappé memimpin perlawanan dengan mencetak gol kesembilannya di turnamen ini, disusul oleh gol dari Bradley Barcola. Prancis sempat memperkecil ketertinggalan menjadi 4-3 dan kemudian 5-4 melalui gol tambahan Mbappé dan Ousmane Dembélé. Namun, Inggris berhasil mengunci kemenangan lewat penalti Bukayo Saka yang mencetak hattrick serta gol penutup dari Jude Bellingham.
Seusai pertandingan, kapten Kylian Mbappé mengakui bahwa timnya tampil buruk pada paruh pertama. "Ada dua babak yang berbeda. Pada babak pertama, saya bisa memahami jika ada yang mengatakan kami tidak menghormati seragam ini. Sayangnya, paruh pertama memberikan kesan bahwa kami mengecewakan pelatih. Namun, pertandingan ini tidak akan menodai legenda seorang Didier Deschamps," kata Mbappé kepada media M6.
Didier Deschamps sendiri memilih untuk bertanggung jawab penuh atas hasil negatif ini. Menurutnya, kesalahan murni berada pada keputusannya dalam menentukan strategi di paruh pertama. "Ini adalah kegagalan saya karena saya tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan pada babak pertama. Meski kekalahan ini menyakitkan, ada kelompok pemain dengan kualitas sepak bola yang baik di sini. Secara manusiawi, ini adalah petualangan yang indah selama delapan minggu," ujar Deschamps.
Sesaat setelah laga usai, Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) langsung merilis pernyataan resmi untuk memberikan penghormatan tertinggi kepada Deschamps. Selama 14 tahun mengabdi, ia telah membawa Prancis merengkuh trofi Piala Dunia 2018 dan UEFA Nations League 2021. Pengganti resmi posisi pelatih kepala dilaporkan akan diumumkan oleh FFF sebelum akhir bulan ini.