Perayaan kemenangan Argentina atas Inggris pada babak semifinal hanya berlangsung beberapa menit, namun berbuntut panjang melampaui gelaran Piala Dunia. Setelah menyingkirkan Three Lions, sejumlah pemain Argentina membentangkan spanduk di lapangan dengan pesan "Las Malvinas son argentinas" atau "Malvinas adalah milik Argentina". Tuntutan politik ini memicu intervensi langsung dari FIFA.
Related Stories
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak berita terbaru tentang Désiré Doué dan PSG dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Now →Otoritas tertinggi sepak bola dunia tersebut akan menyelidiki insiden yang terjadi pasca-laga di Atlanta yang berakhir dengan skor 2-1. Kendati demikian, prosedur disiplin tidak akan selesai sebelum laga final hari Minggu melawan Spanyol. Menurut laporan, Lionel Scaloni tetap dapat menurunkan seluruh pemain yang terlibat, sementara Komite Disiplin menentukan hukuman untuk para pesepak bola, AFA, atau kedua belah pihak.
Dampak instan yang paling dikhawatirkan dipastikan gugur. Berdasarkan informasi dari Isaac Fouto di Tiempo de Juego, FIFA akan membuka berkas perkara terkait spanduk tersebut, namun segala bentuk sanksi baru akan dijatuhkan setelah Piala Dunia berakhir. Para pemain yang terlibat dapat tampil tanpa hambatan pada partai puncak turnamen.
Penyelidikan akan berfokus untuk mengidentifikasi pihak yang membawa spanduk tersebut ke stadion, pemain yang aktif membentangkannya, serta tanggung jawab Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA). Giovani Lo Celso terlihat memegang spanduk itu di barisan depan bersama beberapa rekan setimnya saat merayakan kemenangan atas Inggris.
Pesan politik tersebut diketahui berasal dari tribun penonton. Para pemain internasional Argentina kemudian membentangkannya di lapangan setelah pertandingan berakhir. Aksi ini tetap terjadi meskipun pihak penyelenggara sebelumnya telah memperketat pengawasan untuk mencegah masuknya simbol-simbol terkait sengketa wilayah.
Penundaan prosedur ini membuat potensi hukuman tidak akan mengganggu jalannya laga Spanyol melawan Argentina. Pertandingan final akan digelar pada Minggu, 19 Juli di New Jersey, mempertemukan juara dunia bertahan dengan La Roja yang tengah memburu bintang kedua mereka.
Kode Disiplin FIFA melarang keras penggunaan gestur, kata-kata, atau objek yang bertujuan menyampaikan pesan politik, ideologi, agama, atau penghinaan yang tidak pantas untuk sebuah acara olahraga. Regulasi ini juga membebankan tanggung jawab kepada federasi atas perilaku seluruh anggota delegasi mereka.
Konsekuensi pelanggaran ini dapat berkisar dari peringatan, denda finansial, hingga larangan bertanding. Untuk pesan politik semacam ini, aturan disiplin menetapkan sanksi ekonomi antara 5.000 hingga 20.000 franc Swiss, tergantung pada tingkat keparahan dan rekam jejak pelanggaran sebelumnya.
Skenario yang dinilai paling berpeluang terjadi adalah hukuman denda bagi AFA. Sanksi larangan bertanding bagi pemain tidak sepenuhnya mustahil, namun membutuhkan prosedur individual dan pemberian hak bagi para pemain terkait untuk mengajukan pembelaan.
Leandro Paredes membela tindakan kelompoknya dengan menjelaskan bahwa aksi tersebut dilakukan karena mereka "bermain untuk seluruh bangsa kami". Namun, interpretasi nasionalisme tersebut berbenturan dengan kewajiban federasi untuk memisahkan tuntutan politik dari agenda resmi kejuaraan.
Reaksi keras dari Inggris segera bermunculan. Pemerintah Inggris menyebut spanduk tersebut "sama sekali tidak pantas" dan mendesak FIFA untuk menganalisis insiden tersebut, dengan menegaskan bahwa politik harus tetap berada di luar sepak bola.
Seorang juru bicara Perdana Menteri Keir Starmer membela kedaulatan Inggris atas kepulauan tersebut dan menegaskan kembali hak penduduknya untuk menentukan masa depan mereka. Peter Kyle, Menteri Bisnis dan Perdagangan Inggris, menuntut penyelidikan yang "menyeluruh" atas perilaku para pemain Argentina.
Kepulauan yang disebut Falkland Islands oleh Inggris dan Malvinas oleh Argentina tersebut merupakan wilayah seberang laut Inggris yang kedaulatannya diklaim oleh negara Amerika Selatan itu. Sengketa ini sempat memicu perang selama sepuluh minggu pada tahun 1982 dan terus memengaruhi hubungan politik kedua negara hingga kini.
Dunia sepak bola Spanyol juga belum lama ini menghadapi kasus serupa. Rodri dan Álvaro Morata sempat dijatuhi sanksi larangan bertanding satu laga oleh UEFA setelah menyanyikan "Gibraltar adalah milik Spanyol" dalam perayaan Euro 2024 di Madrid.
Organ Disiplin UEFA menilai kedua pemain memanfaatkan acara olahraga untuk melakukan demonstrasi yang tidak ada hubungannya dengan olahraga. Mereka menjalani hukuman tersebut kemudian, tepatnya pada pertandingan resmi pertama Spanyol di Nations League.
Preceden serupa juga pernah terjadi di bawah yurisdiksi FIFA. Pemain Korea Selatan, Park Jong-woo, dihukum larangan bertanding dalam dua laga setelah membentangkan spanduk terkait sengketa wilayah antara Korea Selatan dan Jepang atas Pulau Dokdo atau Takeshima pada Olimpiade London 2012.
Kini Argentina dapat memfokuskan pikiran pada laga final, namun kasus ini tidak akan menguap begitu saja setelah peluit panjang berbunyi. Hari Minggu besok mereka akan memperebutkan gelar juara melawan Spanyol, setelah itu mereka harus mempertanggungjawabkan spanduk yang kembali mencampuradukkan sepak bola, sejarah, dan politik di panggung terbesar dunia.