Kapten Tottenham Hotspur Cristian Romero menjadi pusat perhatian saat para pemain Argentina merayakan kemenangan semifinal Piala Dunia atas Inggris. Mereka merayakan keberhasilan tersebut di atas lapangan dengan membentangkan spanduk sensitif mengenai Kepulauan Falkland.
Related Stories
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak berita terbaru tentang Désiré Doué dan PSG dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Now →Pelatih Argentina Lionel Scaloni sebelumnya telah menegaskan bahwa ia tidak ingin pertandingan ini dikaitkan dengan konflik wilayah seberang laut Britania Raya tersebut. Namun, setelah timnya bangkit dari ketertinggalan 1-0 untuk menang 2-1 dan menembus final Piala Dunia kedua secara beruntun, para pemain justru memamerkan spanduk bertuliskan "Las Malvinas son Argentinas" yang berarti "Kepulauan Falkland adalah milik Argentina".
Aksi provokatif ini membuat para pemain Argentina dan federasi sepak bola mereka, AFA, kini terancam menerima sanksi berat dari FIFA. Kasus serupa pernah terjadi saat UEFA menjatuhkan hukuman larangan bertanding satu laga kepada Rodri dan Alvaro Morata setelah keduanya menyanyikan yel-yel "Gibraltar adalah Spanyol" dalam perayaan Euro 2024.
Berdasarkan tuntutan yang berkembang, Sekretaris Bisnis Inggris Peter Kyle mendesak agar tindakan tersebut diusut tuntas. "Politik harus dipisahkan dari sepak bola. Faktanya, salah satu prinsip utama Piala Dunia adalah menjauhkan politik dari sepak bola. Masalah ini sekarang berada di tangan FIFA. Saya berharap FIFA melakukan investigasi secara menyeluruh," ujarnya kepada BBC.
Ketegangan politik antara Argentina dan Britania Raya terkait Kepulauan Falkland memang telah lama membara. Wilayah seberang laut Britania Raya ini sempat memicu perang terbuka pada tahun 1982 ketika pasukan Argentina melancarkan invasi, yang kemudian memicu respons militer balasan dari pihak Britania Raya.
Menurut laporan, Wakil Presiden Argentina Victoria Villarruel bahkan sempat melontarkan kalimat pedas dengan menyebut Inggris sebagai penjajah dan bajak laut perampas sebelum pertandingan dimulai. "Besok kita bermain melawan bajak laut perampas. Ini bukan sekadar pertandingan biasa. Saya tidak akan bersikap politis atau berdarah dingin; melawan Inggris selalu ada makna lebih. Ini tentang Malvinas, tentang Diego, tentang laga terakhir Leo, dan tentang menghentikan para penjajah," tegasnya.
FIFA bersama badan pembuat aturan sepak bola, IFAB, memiliki posisi yang sangat tegas dan tanpa kompromi mengenai tim yang menampilkan spanduk bermuatan politik di dalam stadion.
Aturan resmi IFAB menyatakan bahwa perlengkapan pertandingan tidak boleh memuat slogan, pernyataan, atau gambar yang bersifat politik, agama, atau pribadi. Pemain juga dilarang menunjukkan pakaian dalam yang menampilkan pesan-pesan tersebut, di luar logo produsen pakaian resmi.
Berdasarkan regulasi yang berlaku, setiap pelanggaran terhadap aturan ini akan membuat pemain yang bersangkutan dan tim mereka dijatuhi sanksi disiplin oleh penyelenggara kompetisi, asosiasi sepak bola nasional, atau langsung oleh pihak FIFA.