Langkah tim nasional Inggris kembali terhenti di babak krusial. Impian mereka untuk mencapai final Piala Dunia 2026 hancur setelah kalah dramatis dari Argentina di babak semifinal. Inggris sempat unggul lebih dulu melalui gol Anthony Gordon pada menit ke-55. Namun, keputusan taktis untuk bertahan justru menjadi bumerang yang mematikan bagi tim asuhan Thomas Tuchel.
Related Stories
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak berita terbaru tentang Désiré Doué dan PSG dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Now →Argentina bangkit dan menghukum kepasifan Inggris. Enzo Fernandez menyamakan kedudukan lewat tembakan dari luar kotak penalti. Petaka bagi Inggris tiba pada menit ke-92 saat umpan silang akurat dari Lionel Messi berhasil disundul masuk oleh Lautaro Martinez. Gol tersebut memastikan kemenangan Argentina sekaligus memicu kritik keras terhadap pendekatan taktis Inggris.
Berdasarkan wawancara setelah pertandingan, kapten Inggris Harry Kane menyatakan bahwa timnya harus menemukan formula yang hilang. "Kami harus menemukan bagian yang hilang, sesuatu yang tidak kami miliki dalam empat atau lima turnamen terakhir," ujar Harry Kane dengan nada kecewa.
Di sisi lain, kapten Argentina Lionel Messi memuji mentalitas baja yang ditunjukkan oleh rekan-rekannya. "Sangat luar biasa apa yang baru saja dicapai oleh kelompok ini sekali lagi, mencapai final Piala Dunia. Kami datang sebagai juara bertahan dan telah menjadi yang terbaik selama empat tahun terakhir," kata Lionel Messi di area wawancara.
Lionel Messi juga menambahkan bahwa pencapaian ini membuktikan kualitas konsisten Argentina di panggung dunia. "Siapa pun yang terluka atau apa pun yang mereka katakan, hari ini sekali lagi kami menempatkan diri di antara dua yang terbaik di dunia. Itu menunjukkan bahwa semua yang kami lakukan bukan kebetulan dan tidak ada yang memberi kami apa pun secara cuma-cuma," tegas pemain berusia 39 tahun tersebut.
Kekalahan ini memicu kritik tajam dari para pundit sepak bola. Mantan pemain Inggris Joe Cole menilai ada ketakutan yang mendalam di dalam mentalitas skuad Inggris. Menurut Joe Cole, masalah utama ada pada psikologis pemain yang mendadak panik saat sudah unggul. "Ini adalah masalah yang sama. Siapa pun yang melatih Inggris harus mengatasi rasa takut akan kegagalan. Hal itu melumpuhkan tim. Kami hanya menguasai 12 persen bola setelah mencetak gol, dan itu menunjukkan masalah pola pikir," ungkap Joe Cole.
Kritik senada juga datang dari mantan bek tim nasional Inggris Gary Neville. Ia menilai Inggris membuang peluang emas yang jarang terjadi. "Inggris tidak akan pernah memiliki kesempatan yang lebih baik untuk mencapai final daripada ini. Mereka hanya berjarak lima menit ditambah tambahan waktu dari final. Mereka bermain terlalu menyempit dan terlalu dalam," kata Gary Neville.
Thomas Tuchel mencoba membela keputusan taktisnya setelah pertandingan, namun mantan pemain Skotlandia Ally McCoist menilai pergantian pemain sang pelatih keliru. Menurut Ally McCoist, taktik bertahan Tuchel justru mengundang lawan untuk terus menyerang. "Pergantian pemain yang dia lakukan hanya melakukan satu hal: mengundang lawan untuk menekan Anda. Karena Anda bertahan sangat dalam, Anda tidak bisa keluar menyerang," ujar Ally McCoist.
Dengan hasil ini, Argentina melangkah ke final untuk menghadapi Spanyol di New Jersey hari Minggu nanti. Tim asuhan Lionel Scaloni berpeluang menyamai rekor Brasil dan Italia sebagai tim yang mampu memenangkan gelar Piala Dunia secara berturut-turut. "Tim ini bermain paling baik saat menghadapi kesulitan. Lawan sedikit ragu, kami mencium darah, dan kami mengejarnya," pungkas Lionel Scaloni.