Pelatih tim nasional Prancis Didier Deschamps mengakui bahwa pasukannya kalah kelas dari lawan mereka. Spanyol menundukkan Prancis dengan skor 2-0 dalam laga semifinal Piala Dunia pada hari Selasa. Kekalahan tersebut menyoroti kelemahan teknis, taktis, dan fisik Prancis. Hasil ini sekaligus mengakhiri ambisi mereka untuk merebut gelar juara dunia yang ketiga.
Related Stories
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak berita terbaru tentang Désiré Doué dan PSG dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Now →Prancis datang ke turnamen sebagai salah satu tim yang diunggulkan. Namun, sepanjang pertandingan, Spanyol mendominasi lini tengah dan memotong aliran bola menuju Kylian Mbappe. Berdasarkan jalannya laga, Spanyol berhasil memanfaatkan setiap kesalahan yang dibuat oleh para pemain Prancis.
"Jelas sekali, tim Spanyol ini sangat kuat dan mereka membuktikannya malam ini," ujar Didier Deschamps dalam konferensi pers setelah pertandingan. Menurut sang pelatih, performa timnya berada di bawah standar yang biasa mereka tunjukkan. Prancis melakukan lebih banyak kesalahan teknis dibandingkan laga-laga sebelumnya dan kalah dalam duel fisik.
Prancis sebenarnya berhasil menembus babak empat besar berkat reputasi lini serang mereka yang menakutkan. Namun, Ousmane Dembele, Michael Olise, dan Kylian Mbappe tidak berkutik dalam pertandingan ini. Spanyol menutup ruang gerak mereka dan berkali-kali merebut kembali penguasaan bola.
Didier Deschamps mengatakan bahwa timnya harus bermain dengan kapasitas penuh untuk merepotkan Spanyol. Sayangnya, Prancis gagal memenuhi target itu di setiap lini krusial. "Kami tahu kualitas yang dimiliki Spanyol. Untuk memiliki peluang lolos, kami harus berada dalam performa terbaik. Kami tidak mencapainya," kata pelatih asal Prancis tersebut.
Kondisi Prancis semakin diperparah oleh cedera yang dialami bek William Saliba. Selain itu, gelandang Adrien Rabiot terpaksa menahan agresivitasnya setelah menerima kartu kuning di awal babak pertama. Kehilangan momentum ini membuat koordinasi permainan Prancis menjadi berantakan.
Menurut penjelasan Didier Deschamps, kemampuan Spanyol dalam membaca arah operan dan memotong serangan membuat Prancis tidak bisa membangun ritme permainan. "Mereka sangat bagus dalam menghubungkan permainan mereka dan membaca arah operan untuk merebut bola," ucapnya.
"Kami tidak menemukan solusi untuk keluar dari tekanan. Fakta bahwa kami gagal menampilkan kualitas serangan dan teknis seperti sebelumnya adalah sebagian dari kesalahan kami. Namun, Spanyol juga layak mendapatkan pujian karena berhasil mencegah kami berkembang," tambah Didier Deschamps.
Kekalahan ini mengubur mimpi Prancis untuk mencapai final Piala Dunia tiga kali berturut-turut. Empat tahun lalu di Qatar, langkah mereka dihentikan oleh Argentina lewat adu penalti yang dramatis.
Didier Deschamps mengungkapkan bahwa para pemainnya sangat terpukul di dalam ruang ganti. Meski begitu, ia menolak untuk mengabaikan kerja keras dan kemajuan yang telah dicapai tim sepanjang turnamen ini berjalan.
"Kekecewaan kami sangat besar. Ini adalah kelompok para kompetitor, dan melihat perjalanan ini berakhir terasa sangat menyakitkan. Saya tidak ingin membuang semua hal baik yang telah kami lakukan, tetapi dalam pertandingan ini Spanyol menunjukkan bahwa mereka memiliki sesuatu yang lebih," tutur Didier Deschamps.
Prancis kini harus mengalihkan fokus mereka ke pertandingan perebutan tempat ketiga yang akan digelar pada hari Sabtu mendatang. Mereka akan menghadapi tim yang kalah dari laga antara Inggris dan Argentina.
Di samping mengevaluasi performa tim, Didier Deschamps juga mempertanyakan standar kepemimpinan wasit. Ia menilai beberapa keputusan di lapangan sangat bisa diperdebatkan. Ia bahkan mempertanyakan apakah wasit asal El Salvador, Ivan Barton, memiliki kapasitas yang layak untuk memimpin laga krusial sekelas semifinal Piala Dunia.
"Petugas keempat dan kelima berada di tingkat tertinggi, saya mengobrol dengan mereka di pinggir lapangan. Tetapi wasit utama di lapangan... Saya tidak akan mengatakan apa-apa, tetapi saya bertanya kepada Anda: apakah dia memiliki level yang layak untuk semifinal Piala Dunia?" pungkas Didier Deschamps dengan nada kecewa.