Harapan Argentina untuk mempertahankan kejayaan sirna di New Jersey. Sepanjang pertandingan, Albiceleste terus menanti momen magis yang biasa hadir dari kaki Lionel Messi. Namun, keajaiban yang menyelamatkan mereka dalam dua edisi Piala Dunia terakhir tidak kunjung datang kali ini.
Related Stories
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak berita terbaru tentang Désiré Doué dan PSG dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Now →Berdasarkan jalannya laga, Spanyol berhasil mematikan pergerakan Lionel Messi sepenuhnya. Sang kapten jarang mendapatkan bola, dan ketika menguasainya, ia terisolasi di sisi lapangan tanpa ruang gerak. Ini adalah salah satu penampilan paling senyap dari Messi, sebuah pujian bagi kedisiplinan taktik Spanyol.
Petaka Argentina diperparah oleh kartu merah ceroboh yang diterima Enzo Fernandez. Sudah mengantongi kartu kuning akibat protes, Fernandez justru melanggar Pau Cubarsi dengan keras. Tindakan tidak cerdas di laga sekelas final Piala Dunia ini membuat Argentina harus bermain dengan sepuluh orang dan membayar mahal kesalahan tersebut.
Menurut penilaian performa, kiper Emiliano Martinez tampil apik dengan melakukan banyak penyelamatan krusial, meski gagal menghentikan gol kemenangan Spanyol. Di lini belakang, Nicolas Tagliafico bekerja keras mematikan Lamine Yamal, sementara Lisandro Martinez harus keluar lebih cepat karena cedera setelah menerima kartu kuning bodoh.
Pemain pengganti seperti Nicolas Otamendi sempat memberikan stabilitas di lini pertahanan dengan beberapa sapuan penting. Namun, masuknya Nahuel Molina justru menjadi celah yang dimanfaatkan Spanyol, di mana ia kehilangan pengawalan terhadap Nico Williams yang berujung pada gol penentu kemenangan.
Pelatih Lionel Scaloni dinilai gagal memberikan respons taktis yang tepat. Sejak awal, Argentina tidak mampu mengendalikan permainan. Situasi semakin memburuk setelah Fernandez diusir keluar lapangan, dan Scaloni tidak menemukan jawaban atas dominasi yang ditunjukkan oleh Spanyol.