Tomato News Tomato News
/home / internasional / Kekalahan Prancis di Piala Dunia,...
INTERNASIONAL

Kekalahan Prancis di Piala Dunia, Mengulang Tragedi Kriket West Indies

Kylian Mbappe tertunduk lesu setelah Prancis disingkirkan Spanyol di semifinal Piala Dunia 2026

Kylian Mbappe tertunduk lesu setelah Prancis disingkirkan Spanyol di semifinal Piala Dunia 2026

Dunia olahraga kerap menyajikan drama yang serupa meski melibatkan cabang yang berbeda. Beberapa pekan lalu, pengamat menyamakan tim nasional Prancis yang dimotori Kylian Mbappe di Piala Dunia 2026 dengan tim kriket legendaris West Indies pada era 1980-an. Kedua tim memiliki kemiripan yang mencolok, yaitu lini serang mematikan yang diisi oleh empat pilar utama.

Prancis menggempur pertahanan lawan lewat kecepatan Kylian Mbappe, Ousmane Dembele, Bradley Barcola, dan Michael Olise. Sementara itu, pada masa kejayaannya, West Indies mendominasi dunia kriket melalui empat pelempar cepat yang menakutkan seperti Malcolm Marshall, Andy Roberts, Michael Holding, dan Joel Garner. Menghadapi barisan pelempar tersebut digambarkan sama mustahilnya dengan menantang Rafael Nadal di lapangan tanah liat French Open.

Namun, dominasi tidak menjamin keabadian. Menurut catatan sejarah, West Indies secara mengejutkan kalah dari tim India yang tidak diunggulkan pada final Piala Dunia Kriket 1983 di Lord's. Peringatan tersebut kini menjadi kenyataan bagi Prancis. Langkah tim bertabur bintang itu terhenti di babak semifinal Piala Dunia 2026 oleh Spanyol, membuktikan bahwa tim terkuat sekalipun bisa bertekuk lutut di fase gugur.

Berdasarkan analisis sebelum laga, para pakar dan mantan pesepak bola di berbagai stasiun televisi global justru meremehkan Spanyol. La Roja dianggap tidak akan mampu meredam daya ledak kuartet penyerang Prancis yang hanya membutuhkan kurang dari empat operan untuk mencetak gol. Gaya permainan berbasis penguasaan bola milik Spanyol diprediksi akan hancur berantakan melalui skema serangan balik cepat Prancis.

Kritikus melupakan bahwa Spanyol adalah tim yang berbeda. Skuad asuhan Luis de la Fuente ini sempat diragukan setelah awal yang lambat saat ditahan imbang tanpa gol oleh Tanjung Verde, ditambah masalah cedera yang menimpa Lamine Yamal dan Nico Williams. Namun, Spanyol tidak kehilangan harapan dan perlahan membangun momentum dengan menyingkirkan Portugal di babak 16 besar serta Belgia di perempat final.

Ketabahan Spanyol tidak lepas dari tangan dingin Luis de la Fuente. Pelatih berusia 63 tahun tersebut dikenal memiliki kesabaran tinggi berkat pengalamannya di level akar rumput yang sukses membawa Spanyol menjuarai Piala Eropa U-19 dan U-21. Karakter permainan operan pendek dan kendali lini tengah yang kuat kembali diperagakan dengan sempurna saat membungkam Prancis pada laga semifinal hari Selasa.

Spanyol mendominasi penguasaan bola dan membuat barisan penyerang Prancis frustrasi karena kekurangan suplai bola akibat lini tengah yang rapuh. Kekalahan Prancis ini memiliki satu perbedaan mendasar dengan tragedi West Indies 1983. Jika India kala itu bukan favorit juara, Spanyol datang sebagai tim kelas dunia yang siap menghukum siapa saja yang meremehkan filosofi sepak bola mereka.

Jurnalis Spesialis Sepak Bola Internasional & Transfer

Adam Darmawan adalah jurnalis yang mendalami perkembangan sepak bola internasional, liga-liga top Eropa, dan dinamika transfer pemain. Dengan latar belakang di bidang jurnalistik olahraga, ia memiliki pemahaman mendalam tentang strategi klub, performa pemain, dan tren transfer global. Liputannya tentang liga Inggris, Spanyol, Italia, serta bursa transfer menjadikannya sumber terpercaya bagi pembaca yang ingin mengikuti perkembangan sepak bola dunia. Berbasis di Jakarta, ia aktif meliput berbagai ajang olahraga internasional.